Rabu, 18 Juni 2014

Prabowo dan SBY , dua bintang paling bersinar ABRI

Sebagai 2(dua) bintang paling bersinar di ABRI, kini kedua tokoh ini , presiden dan calon presiden sedang menjalani proses ke arah suksesi. Penyerahan tongkat kepemimpinan memang belum terjadi namun sdh ada tanda-tanda yg memperlihatkan hal tersebut. Akankah benar terjadi ? Mari simak tulisanku, yang sudah pernah kutuangkan di twitter : SBY & Prabowo

Dua Bintang TNI 
Korban Persaingan

Kalau kita berbicara siapakah perwira unggulan di angkatan 1973-1974 AKABRI ( sekarang Akmil ) ? Jawabnya 2 perwira unggulan itu ya pasti Prabowo & Susilo Bambang Yudhoyono ( selanjutnya aku tulis SBY ). 
Keduanya sebetulnya sama2 menjadi korban Wiranto. Prabowo disingkirkan pada th 1998. Sedangkan SBY disingkirkan dengan menjadi menteri pertambangan & energi.
Karena jd menteri, karier militer SBY berakhir dan pensiun sbg Letjend (bintang 3). Tetapi kemudian oleh Gus Dur SBY mendapat jendral kehormatan, seperti Agum Gumelar
Ada rumor mengatakan bahwa SBY masih sakit hati dg tindakan Wiranto menjegal karier militernya sehingga beliau tidak pernah mau mengundang Wiranto ke istana.
Rumor ini seakan terbukti ketika selang sehari setelah mengundang Prabowo, SBY jg mengundang 7 mantan jendral lainnya, tapi tdk termasuk Wiranto (Maret 2013) Baca di SBY mengundang mantan jenderal


Prabowo, Mantan Jenderal, yg Paling Sering Bertemu SBY 
Prabowo juga dlm catatanku adalah mantan jendral yg paling sering "dipanggil" ke istana oleh SBY. Tidak kurang dr 7 kali setauku. Sebagai sesama perwira paling bersinar di TNI masa itu mungkin SBY merasa senasib dengan Prabowo, sama2 diganjal kariernya oleh Wiranto. Inilah ke 7 momen itu :











Apapun patut dicermati bahwa sebagaimana selama ini publik melihat, SBY adalah orang yg sangat mengutamakan stabilitas dalam negeri. SBY tentu ingin kondisi baik2 saja ketika lengser, tdk ada perpecahan di dalam negeri. SBY ingin memastikan bahwa negeri ada di tangan orang yg tepat setelah dia lengser. Entah benar atau tidak dugaanku, sepertinya SBY lebih banyak berharap kepada Prabowo.


Tp sebagai kepala negara, tentu saja SBY tdk mau ikut campur terlalu jauh. Maka 7 mantan jendral "seteru" Prabowo pun diundang. Mungkin beliau ingin tau bgmn pemikiran2 mereka jika Prabowo menerima tongkat estafet suksesi. 

Undangan ke para seteru capres nomer 1 ini seharusnya juga dianggap oleh 7 org ini sbg bentuk peringatan halus agar tdk berlebihan dalam menyatakan penolakan. Tapi nampaknya itu tidak terwujud. Akibatnya, bahkan dokumen rahasia militer DKP saja beredar di dunia maya. 

Para mantan jendral seteru Prabowo ini makin panas hati krn mantan petinggi TNI yakni Pramono Edi Wibowo ( Dukungan Pramono Edhie Wibowo ) & Joko Santoso (Dukungan Djoko Santoso) resmi mendukung Prabowo. Ini sungguh pukulan berat kubu mereka.

"Apa pantas pangti tertinggi TNI adalah pecatan TNI ?", Itu komentar Luhut. Dukungan Pramono Edhi Wibowo dan Joko Santoso seperti menohok Luhut telak, karena itu artinya segala fitnah yang dilancarkan selama ini ke Prabowo tidak mempan. 

Prediksiku, jika para jendral seteru Prabowo ini terus-terusan menghantam dengan fitnah, maka bola justru akan berbalik. Kasus2 pelanggaran HAM berat yang dilakukan Hendropriono (Talangsari), Wiranto (Mei), Sutiyoso (Kudatuli) mulai dibuka2 kembali. 
Dalam kasus Munir misalnya, itu pengusutan ke Hendropriono sebenarnya tinggal sejengkal saja, dan semestinyaa Hendropriono lebih bisa menahan diri. Mungkin dia lupa kata orang, mulutmu harimaumu. 


Pujian Mantan Komandan


Adang Ruhiatna, senior SBY & Prabowo pernah mengatakan : "Dari semua angkatan, yang benar-benar dianggap ‘bintang’ bisa dihitung dengan jari. Tapi, ya itu tadi. Tak semua orang, memang, bisa mero­ket seperti Prabowo dan Bambang. Dan itu wajar. Apalagi Prabowo memiliki banyak nilai plus,misalnya kemam­puannya menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, & Belanda,"


Lebih lanjut Adang Ruhiatna menambahkan :"Pengetahuan Prabowo & SBY luas. ABRI di era globalisasi memang dibutuhkan orang seperti dia. Jadi kalau promosi atau kenaikan pangkat harus urut kacang (bergiliran maksudnya) kapan kita bisa maju?".

Begitulah, sesuatu yang cemerlang biasanya memang mengundang rasa iri. Jendral2 seteru Prabowo sesungguhnya mungkin adalah mereka yg terkalahkan kariernya. Menyitir kalimat Suryo Prabowo, mantan Kasum TNI : Agum itu iri saja sih. Di militer kalah dengan Prabowo, pensiun jadi pengusaha juga kalah kaya, masuk ke politik kalah tenar. Agum itu pilihan gubernur DKI masuk putaran dua saja tidak, demikian juga saat jadi cawapres Hamzah Haz". 

Prabowo Sosok Low Profile 

Kenapa para seniornya tidak suka ? Betulkah karena kalah bersaing ? Apakah karena Prabowo arogan ? Banyak orang melihat Prabowo sebagai sosok arogan, tak terkecuali ayahandanya, Prof.Soemitro, almarhum. Tapi sesungguhnya itu bukan arogan, melainkan sikap terus terang yang dia dapatkan dari pengalaman hidup di Barat. Sejatinya jika kita sering membaca kisah2nya, menyimak kata2nya baik lewat video2 di Youtube atau wawancara tv/radio, Prabowo adalah sosok yg low profile dan humble. Bicaranya memang tegas, blak2an, tapi sama sekali bukan arogan. 


Ketika dilantik jd Danjen Kopassus, komentarnya : "Saya ini tak perlu ditonjol-tonjolkan. Semua orang sudah tahu Prabowo. Yang perlu ditampilkan itu yang kecil2. Itu tidak ada orang yang mau tahu. Padahal, mereka itulah yg bekerja mati2an. Kalau tak ada mereka, saya bukan apa-apa.Byk teman saya yang mati terbunuh di Timtim. Bahkan ada teman sy yg mati sblm sempat menjadi letnan. Sy sendiri sgt bersyukur karena sampai sekarang masih diberi hidup" So humble right ?

Pada momen meraih puncak prestasi pun Prabowo sadar semua yg dia raih itu bukan kerja keras dia semata, tapi ada sumbangsih rekan2nya.
Dlm orasi di Palembang kawan mungkin bisa mendengar Prabowo berkata : "Sudah banyak cucuran darah putra2 bangsa. Komandan saya mati di pelukan saya"
So, Prabowo, adalah sosok yg bs menghargai setiap langkah perjuangan bangsa ini.Sikap inilah yg menurutku membuat SBY mungkin lbh merasa sreg dgnya.

Semoga suksesi 2014 bisa berjalan dengan lancar, tidak rusuh, tidak ada kecurangan. Saatnya INDONESIA BANGKIT


Selasa, 17 Juni 2014

Prabowo Presidenku - Lirik Lagu

Di blog ini ada aku sematkan sebuah lagu berjudul Prabowo Presidenku. Lagu yg sangat bagus, bernuansa etnik daerah Indonesia Timur. Liriknya bisa dibaca di bawah ini 

Prabowo ketika di Kopassus

Mentari bersinar di Timur bangkitkan gairahnya.
Dia hadir di tengah kita bagaikan Garuda.
Kembalikan Indonesia jadi Macan Asia.

Bumi persadapun tak sabar menantinya.
Dari Papua ke Aceh mengharapkan dia.
Kharisma kelembutannya: Berwibawa, penuh kepastian.

Prabowo, pilihan kami!
Prabowo, idola kami!
Prabowo, pimpinan kami!
Prabowo, presiden kami!

Cuma satu presidenku.
Ia berwibawa. Penuh kepastian. Prabowo!
Bumi persadapun tak sabar menanti nantinya.
Dari Papua ke Aceh mengharapkan dia, untuk jadi presidenku. Prabowo!
Presidenku... Prabowo...!

Bumi persadapun tak sabar menantinya.
Dari Papua ke Aceh mengharapkan dia.
Kharisma kelembutannya: Berwibawa, penuh kepastian.

Prabowo, pilihan kami!
Prabowo, idola kami!
Prabowo, pimpinan kami!
Prabowo, presiden kami!

Kau, pilihanku. Gerindra!
Kau, harapanku. Hurray!
Kau, pimpinanku. Prabowo!
(Bagaikan burung Garuda, berani menerjang awan langit kelabu)
Kau, presidenku!

Kau, pilihanku!
Kau, presidenku!
Prabowo!

Rabu, 28 Mei 2014

Prabowo Could Be Indonesia's Lee Kuan Yew

Sekilas tentang Stanley Weiss

Weiss adalah eorang pimpinan perusahaan sekaligus pendiri American Premier,Inc., sebuah perusahaan pertambangan, refraktori, bahan kimia dan pengolahan mineral. Dia Pendiri Ketua Eksekutif Bisnis Keamanan Nasional (Ben), sebuah organisasi non-partisan dari para eksekutif senior yang menggunakan strategi unggulan dalam bisnis untuk memperkuat keamanan bangsa. 
Mr Weiss banyak menulis tentang masalah-masalah kebijakan publik, berbagai artikelnya telah dipublikasikan di International Herald Tribune, The New York Times, The Wall Street Journal, The Washington Post, dan The Washington Times. Weiss juga penulis buku : "Manganese: The Other Uses, is the definitive work on the non-metallurgical uses of manganese"
Sbg mantan pendukung Harvard Center for International Affairs, Mr Weiss adalah penerima gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Point Park College di Pittsburgh, Pennsylvania. Saat ini dia duduk di Dewan Direksi untuk Premiere Chemicals dan merupakan anggota dari Dewan Hubungan Luar Negeri, Ditchley Amerika. 

Dan inilah yang ditulis Weiss tentang Prabowo :



Prabowo Could Be Indonesia's Lee Kuan Yew

BALI, Indonesia--If public graft were a symphony, Djoko Susilo might be its Mozart. On a salary of $1,000 a month, the former head of Indonesia's police academy managed to amass a fortune of $18 million. Earlier this month, Djoko was sentenced to 10 years in prison by the Jakarta Corruption Court for accepting a $2.9 million bribe for a contract that eventually lost the state $10 million.
On the same day Djoko was found guilty, a former Health Ministry official was sentenced to five years in prison for embezzling $1 million. Last month, the country's top oil and gas regulator--revered as a "clean man in a corrupt industry"--was charged with taking $700,000 in bribes from an oil-trading company. All told, more than 360 Indonesianofficials have been jailed on corruption charges since 2002, including cabinet officers, governors, Members of Parliament, and judges.
At a time when every Islamic nation in the Middle East seems to be on fire, Indonesia--which has more Muslims than Syria, Iraq, Afghanistan, and Egypt combined--appears to be a relative oasis of diversity and democracy. On track to become one of the world's ten largest economies, this southeast Asian nation is also set to witness the third consecutive direct election of its president next year after five decades of dictatorship. But in a country where more than half of the population lives on less than $2 a day, Indonesia's deepening corruption at the highest levels isn't just a threat to economic growth--it's a ticking time bomb whose detonation could send shock waves across Asia, destabilize America's China strategy and make the violence in Egypt and Syria pale by comparison.

"If Indonesia continues along the path it is currently taking--with high levels of inequality, high levels of corruption and poor governance--it will eventually lead to chaos and revolt," Prabowo Subianto, the former commander of Indonesia's special forces and a leadingcandidate for president, tells me in a private meeting. "What has happened in the Middle East over the past 24 months could happen in Indonesia, unless we change course towards fairness, equality and transparency in government."
The toxic combination of graft and poverty has also fueled a sharp increase in religious-based violence, with 264 attacks reported last year. Among the potential presidential candidates, Prabowo has spoken most forcefully about the dangers of endemic graft and rising intolerance. He is also the person that many observers believe represents the country's best hope for curbing corruption and Islamic extremism before it leads to violence.
Talking privately with Western ambassadors and business leaders, it is striking how often somebody mentions that Prabowo could become the Indonesian version of Lee Kuan Yew--the revered founder of modern-day Singapore, who took a corruption-ridden nation in the 1950s and transformed it into one of the least corrupt economies in the world.

Prabowo wasn't always seen in such a positive light. When Indonesia's longtime authoritarian President Suharto fell in 1998, the former three-star general--then Suharto's son-in-law--was accused of leading deadly crackdowns against democracy activists. Although never charged with wrongdoing, he was found guilty of "exceeding orders" by a military commission and dismissed from the army.
But in a nation where millions yearn for a greater measure of the strength and order that defined the Suharto years, time has brought to the fore the qualities for which Prabowo is best known--what the popular former Minister of Defense, Juwono Sudarsono, defines as his "fierce loyalty to Indonesia, leadership, decisiveness--and toughness." And like Lee Kuan Yew--who governed by the credo, "If nobody is afraid of me, I'm meaningless"--Prabowo strikes fear in the hearts of still-corrupt Suharto-era cronies because, as one journalist tells me, "He is the only one they respect."

As 2014 approaches, Prabowo has other advantages working in his favor. His campaign is being financed by his wealthy brother, Hashim Djojohadikusumo. In a nation with a history of Muslim-Christian violence, Probowo's brother is a devout Christian, which is reassuring to many who fear a fundamentalist takeover in Jakarta. At a time when elites pay scant attention to Indonesian's poor, Prabowo's Gerinda party--taking a page from the successful playbook of Thailand's former prime minister, Thaksin Shinawatra--is strongly positioned as the voice of poor farmers, with a growing base beyond urban centers.

There is also a potential running mate who would ideally complement Prabowo's discipline with a proven ability to achieve tangible, transformative results on the ground: Ibu Risma, mayor of Surabaya, Indonesia's second-largest city. Recognized nationally as a reformer, praised by popular Jakarta Governor Joko Widodo for her relentless dedication to improving the lives of average Indonesians, the woman known as "Mother Risma" also has a strong anti-corruption record. She was the driving force in establishing Surabaya as the first city in Indonesia to implement a transparent e-government online system that reduced both costs and graft. There isn't another public figure in Indonesia, including Joko, who has a more sparkling record of achievement than the deeply humble Ibu Risma. With her on the ticket, it would prove that Prabowo is serious about cutting corruption with a partner who knows how to implement a clean and transparent government system.

Still, Prabowo's path to the ballot box remains unclear. Under Indonesia's election laws, any candidate for president must be supported by a party or coalition earning at least 20 percentof the popular vote in next April's legislative elections. In the last national election, in 2009, Prabowo's party won just 4.5 percent. But he may have a number of potential coalition partners. Rumor has it that on his deathbed in December of 2009, revered former President Abdurrahman Wahid, known as Gus Dur, urged members of his Nahdlatul Ulama party--the nation's largest Islamic organization, with 40 million moderate Muslim members--to strongly support Prabowo for president.
Maybe Gus Dur knew the same thing that Juwono believes, when he says, "Prabowo is the only candidate with the grit to become president." With corruption increasingly drawing the ire of Indonesia's citizens, by 2014, he might just have the votes to become President, too.

Prabowo Muda Ganteng - Gallery Photo

Berikut adalah kumpulan foto-foto calon pemimpin Indonesia di masa depan, Prabowo Subianto. Dikumpulkan dari berbagai sumber.